Sejarah Dusun Randuwates

Alkisah pada zaman kerajaan Majapahit hiduplah seorang wanita yang terkenal akan kesaktiannya. Wanita tersebut bernama Cilung. Dia berasal dari suatu daerah yang bernama Legundi Wetan, ia merupakan saudara kandung dari Sani. Sama halnya dengan sebagian besar pendekar pada zaman dahulu, Cilung suka mengembara dan bertapa. Ia suka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Suatu ketika dalam perjalanannya Cilung terhenti di sebuah hutan yang ditumbuhi oleh banyak pohon randu. Setelah berpikir sejenak, ia merasa tempat tersebut cocok untuk melakukan pertapaan dan pada akhirnya memutuskan untuk singgah dan mendirikan tempat tinggal di hutan tersebut.

 Satu persatu pohon randu mulai ditebang untuk dijadikan tempat tinggal. Hal penting kedua setelah mendirikan tempat tinggal adalah menemukan sumber air. Cilung lalu membuat sebuah sumur yang kemudian menjadi sumber air pertama di wilayah tersebut.

Cilung hidup dengan damai dengan banyak melakukan pertapaan yang bertujuan untuk mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa. Menurutnya ketenangan hati dan kedamaian jiwa hanya bisa dicapai ketika kita dekat dengan Yang Maha Kuasa.

Hingga suatu ketika pertapaannya terusik oleh rintihan orang yang kesakitan di dekat tempatnya bertapa. Cilung lalu menghampirinya untuk menolong dan mencoba menggunakan kesaktian yang ia miliki untuk menyembuhkan penyakit yang diderita orang tersebut. Tanpa disangka ternyata Cilung mampu mengobati orang tersebut dengan sekejap mata.

Alhasil setelah peristiwa tersebut banyak orang dari berbagai daerah datang berbondong-bondong untuk meminta pertolongan mengobati penyakit yang mereka derita. Bahkan tak sedikit dari mereka ingin menimba ilmu dan berguru kepada Cilung, sehingga tak membutuhkan waktu lama bagi Cilung untuk mempunyai banyak murid. Dengan bantuan murid-muridnya Cilung membuat sebuah perkampungan di wilayah tersebut. Semua pohon randu mereka babat habis. Dan akhirnya Cilung memberi nama kampung tersebut “Randuwates”.

Kehidupan Cilung di Randuwates berjalan dengan damai dan bahagia hingga suatu ketika ia bertemu dengan seorang pria tampan yang mampu meluluhkan hatinya. Ulam dicinta pucukpun tiba, sang pria tersebut juga jatuh cinta pada Cilung. Mereka kemudian memutuskan untuk tinggal dan hidup bersama di desa Randuwates.

Cilung lalu mewariskan desa Randuwates pada anak turun dan generasi selanjutnya. Untuk menghormati, menghargai dan mengenang jasa Cilung sebagai leluhur Randuwates, sering diadakan ritual di sumur peninggalannya. Hal ini juga bertujuan untuk mengingatkan para peziarah akan sosok pembuka hutan atau pendiri desa Randuwates dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *